Al Quran Dan Itrah takan terpisah, apa terjadi Resam Uthmani?

Dalam Mustadrak ala Shahihain, oleh Al Hakim Naisaburi (Juz.3 hal.124 ), tercatat bahwa Rasulullah saww bersabda :

“Ali bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali, mereka tidak akan terpisah hingga mereka bertemu denganku di telaga Haudh”

Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah Imam Ali (as) tidak mengumpulkan mushaf yang ia tulis saat bersama Rasulullah (saw) yang lalu ia susun menjadi Kitab al-Qur’an..? sedangkan riwayat sahih diatas jelas menyebutkan “al-Qur’an” bukan “mushaf” (lembaran).

Mushaf (lembaran) yang telah lengkap dan terkumpul keseluruhannya, disusun dan dijadikan satu maka baru bisa disebut Kitab, dalam hal ini Kitab al-Qur’an.

Bukankah Rasulullah telah mengatakan bahwa beliau meninggalkan Kitabullah dan Itrah yang tidak akan pernah terpisah sampai mereka bertemu di telaga Haudh, sebagaimana dalam Yanabi’ul Mawaddah (juz.1. hal. 95) :

Jelas Imam Ali (as) adalah Ahlul Bait Rasulullah saww, dan kata “Kitab Allah” menunjukkan bahwa itu adalah susunan dari “mushaf” (lembaran) yang dijadikan satu.

M. Hadi Ma’rifat mencatat dalam “Sejarah Al Qur’an” bahwa Muhammad bin Sirin menukil dari Ikrimah yang berpendapat bahwa pada awal kekahlifahan Abu Bakar, Ali berdiam diri didalam rumah, mengumpulkan al Qur’an. Muhammad bin Sirin bertanya kepada Ikrimah, :

“Apakah tertib dan susunannya sama seperti mushaf-mushaf lainnya?” Dia menjawab : “Seandainya Jin dan manusia berkumpul untuk mengumpulkan al Qur’an seperti (yang btelah dilakukan) Ali, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya”. Ibnu Sirin berkata, “Meski saya sudah berusaha keras untuk mendapatkan mushaf itu, tetapi saya tidak berhasil mendapatkannya” (al Itqan, jil.1, hal.155-159)

Ibnu Jazi Kalbi :

“Seandainya mushaf Ali itu ditemukan, niscaya banyak sekali ilmu yang diperoleh.” (al Itqan, jil.1, hal.189-190, dan 197)

M. Hadi Ma’rifati menyebutkan ciri-ciri Mushaf Imam Ali (as) mengenai susunan ayat dan surah yang rapi. Dalam mushaf ini Makiyyah diletakkan sebelum Madaniyah, sangat jelas proses perjalanan sejarah turunnya ayat-ayat al Qur’an, hukum masalah nasih dan mansukh dalam al Qur’an pun bisa dimengerti. Dalam Mushaf ini juga tercantum bacaan ayat-ayat sesuai bacaan Rasulullah (saww). Mengandung Tanzil dan Takwil yang menjelaskan peristiwa serta kondisi yang menyebabkan ayat-ayat dan surah-surah al Qur’an diturunkan. Penjelasan tersebut ada di tepi mushaf.

Imam Ali (as) berkata :

“Sungguh aku telah datang kepada mereka sambil membawa Al Qur’an yang memiliki Tanzil dan Takwil.” (al Itqan, jil.1, hal.190-195)

Beliau (as) juga berkata :

“Tidak ada satu ayatpun yang diturunkan kepada Raulullah (saww) , melainkan beliau membacakan dan mendiktekan (ayat tersebut) kepadaku. Kemudian ayat tersebut aku tulis dengan tanganku. Kemudian beliau (saww) juga mengajarkan kepadaku tentang tafsir,takwil, nasikh dan mnsukh serta muhkam dan mutasyabih setiap ayat. Kemudian beliau (saww) mendoakanku agar Allah menganugerahkan pemahaman dan hafalan kepadaku. Sejak itu hingga sekarang tidak ada satu ayat pun yang kulupakan dan tidak satu pun ilmu pengetahuan yang beliau jarkan kepadaku hilang” (Al Fihrist, hal.47-48).

Mereka Menolak Mushaf Imam Ali (as)

Setelah Imam Ali (as) mengumpulkan al Qur’an, menurut Ya’qubi, beliau meletakkannya di atas punngung unta dan dibawa ke masjid ketika orang-orang mengelilingi Abu Bakar. Ali bin Abi Thalib (as) berkata kepada mereka :

“Setelah Rasulullah wafat, aku sibuk mengumpulkan al Qur’an dan skarang aku telah membawanya di dalam bungkusan kain ini. Aku telah mengumpulkan semua ayat yang diturunkan kepada Rasulullah saww. Tiada satu ayat pun yang diturunkan kecuali Nabi (saww) membacakannya untukku dan mengajarkan tafsir dan takwilnya. Jangan sampai esok hari kalian berkata; “Kami telah lupa”.

Pada saat itu salah seorang pemimpin kelompok disana bangkit dari tempatnya melihat apa yang dibawa oleh Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata, “Kami tidak membutuhkan apa yang kamu bawa. Cukup bagi kami apa yang ada pada kami”

Ali bin Abi Thalib berkata ;

“Mulai saat ini kalian tidak akan pernah melihatnya lagi” Pada saat itulah beliau masuk ke rumah dan setelah itu tak seorang pun melihat mushaf tersebut. (Sejarah Al Qur’an oleh M. Hadi Ma’rifat, menukil dari Ala ar-Rahman, jld.1, hal 257 oleh Muhammad Jawad Balaghi).

Akhirnya pada masa Ustman terjadi perbedaan begitu mencolok antar mushaf-mushaf para sahabat dan orang-orang yang berpihak kepada mereka.

Komentar Seorang Ulama Ahlu Sunnah Dalam Kasus Ini

Ulama Ahlusunnah, Mahmud Abu Riyyah mengeluarkan penyataan sekaligus peringatan keras dalam Adwa ala al-Sunnah al Muhammadiyyah hal. 300 (cet.Ansariyan Publications 1999) :

“Hal paling aneh dan poin paling memalukan adalah mereka tidak pernah memasukkkan nama Ali kedalam orang-orang yang diperintahkan bersama mengumpulkan dan menuliskan Al Qur’an, baik pada masa Abu Bakar maupun pada masa Ustman..!. Malahan disebutkan nama-nama mereka yang derajatnya dibawahnya[1] dalam ilmu dan fiqih..!. Apakah Ali tak sanggup untuk melakukan pekerjaan ini..!? Atau ia termasuk orang yang tidak dapat dipercaya..!? Atau termasuk mereka yang tidak mempunyai kompeten untuk dijadikan rujukan atau komitmen dalam memikul tanggung jawab tersebut..?

Sementara itu, dalam kenyataannya dan secara logika Ali adalah orang seharusnya menjadi yang terpenting dan paling memiliki kompeten terpercaya dalam tugas penting ini, pemilik kedudukan khusus dan kemulian (jasa) yang seluruh sahabat lainnya masih kurang (dibawahnya). Ia mengikuti dan tumbuh besar dibawah asuhan Nabi (saww), hidup lama dibawah perlindungannya, hadir ketika Wahyu dari hari pertama diturunkan sampai berakhir, bukankah dengan begitu ia tidak melewatkan walaupun satu ayat darinya[2]..?

Jadi jika ia tidak di undang dalam tugas sulit dan penting, untuk hal apa lagi ia akan di undang..?

Dan jika mereka menemukan pembenaran dengan mengabaikannya[3] melihat pada masa khalifah Abu Bakar, tidak pernah berkonsultasi kepadanya atau mencari atau meminta pendapatnya mengenai hal tersebut, apa alasan yang mereka berikan dengan tidak mengundangnya dalam tugas menuliskan al Qur’an..? Apakah ada alasan yang logis dalam sikap tersebut..? Keputusan apa yang dapat dikeluarkan oleh hakim yang adil..? Sungguh ini merupakan perkara yang mengejutkan, dan kami tidak dapat berkata apa-apa, kecuali; Semoga Allah melindungimu wahai Ali..! Mereka tidak memperlakukanmu dengan adil dalam hal apapun..!”

Kita meyakini bahwa Al Qur’an yang ada ditangan kaum muslimin saat ini semua sama dan tidak mengalami tahrif, namun yang disayangkan adalah terjadinya banyak hukum dan penafsiran yang menyimpang dikarenakan memisahkan Al Qur’an dengan Ahlul Bait (as) sejak wafatnya Rasulullah (saww).

—-

Catatan kaki :
1. Dibawah Imam Ali (as)
2. Dari Rasulullah (saww)
3. Mengabaikan Imam Ali (as)

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s